5 Hal yang Dipelajari dari Dorama ‘Chef: Three Star School Lunch’

chef three star school lunch

Dorama Jepang bertemakan kuliner.

Selain identik dengan Manga dan Anime, Jepang juga punya Dorama (drama televisi Jepang) yang menarik untuk ditonton. Salah satunya adalah Chef: Mitsuboshi No Kyushoku (Chef: Three Star School Lunch) yang dirilis Tahun 2016. Dorama ini berkisah tentang seorang Chef di sebuah restoran ternama: La Cuisine de La reine yang penuh percaya diri.

Ia adalah sosok dibalik perolehan Tiga Bintang Michelin untuk restoran Prancis tersebut. Bintang Michelin merupakan pujian dan penghargaan tertinggi yang diberikan kepada sebuah restoran. Semakin tinggi bintangnya dari skala 0 hingga 3, semakin bergengsi restoran tersebut.

5 Hal yang Dipelajari dari Dorama 'Chef: Three Star School Lunch' 1
Sumber gambar: Viu.com

Keterampilan memasak Chef yang bernama Mitsuko Hoshino (Yuki Amami) tidak perlu diragukan lagi. Namun, sikapnya yang suka bertindak semaunya sendiri bertentangan dengan pemilik restoran, Shogo Shinoda (Kotaro Koizumi) sehingga ia dikeluarkan secara tidak hormat dengan menyebarkan fitnah bahwa tamu VIP restoran, yakni kritikus makanan dan sejawatnya, mengalami keracunan makanan setelah menyantap sajian Hoshino: Roasted Venison – The Triumph of Joan of Arc.

Isu tersebut tersebar luas di media massa sehingga merusak reputasi Hoshino. Sang Maniak Masak pun menjadi kesulitan mendapatkan kepercayaan lagi sebagai Chef di restoran ternama.

Seperti kata Alexander Graham Bell: “When one door closes, another opens”, Hoshino mendapatkan tawaran dari produser CNB Television untuk menjadi Koki di Sekolah dalam Program Reality Show: Bintang Makan Siang SekolahMantan Chef restoran Bintang Tiga itu ditantang untuk membuat anak-anak tidak lagi menyisakan makan siangnya.

chef three star school lunch
Sumber gambar: Viu.com

Tidak seperti di tempat kerja sebelumnya yang fancy dengan tim kerja yang profesional di bidang kuliner, Hoshino harus mau terikat dengan berbagai peraturan yang ketat dan tim kerja yang terlihat kurang kompeten.

Dorama ini sangat ringan untuk ditonton saat santai. Melalui alur ceritanya, penonton disuguhkan beberapa tips seputar masakan, misalnya jika ingin membuat telur dadar yang lebih lembut, maka kocok putih telur terlebih dahulu sampai mengembang. Setelah itu, campurkan ke dalam kuning telur.

Penonton juga diberitahu rahasia dibalik Sup Gratin Bawang yang nikmat: gunakan campuran daging ayam dan daging sapi serta pastikan bawang Bombay ditumis hingga kecoklatan dan mengeluarkan aroma harum. Selain memberikan wawasan tentang dunia kuliner, terdapat 5 hal yang bisa dipelajari dari dorama ini, yaitu:

1. Makanan untuk anak bukan hanya soal rasa

dorama
Sumber gambar: Viu.com

Tidak hanya memperhatikan rasa, dorama ini menekankan pentingnya kesehatan dan kebersihan dalam membuat makanan anak.

Salah satu yang patut diteladani dari sistem pendidikan di Jepang adalah asupan gizi sangat diperhatikan dalam menu makanan anak dengan diterbitkan regulasi, seperti anak-anak harus mendapatkan 12 nutrisi di menu makanannya, batas asupan kalori maksimal 640 per anak, konsumsi  garam tidak boleh melebihi 2,5 gram per anak.

Selain itu, proses pembuatan makanan pun harus higienis dengan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap.

2. Sesibuk apapun, upayakan olahraga

Sebelum membuat makan siang SD Mitsuba, Ahli Gizi bernama Heisuke Araki (Kenichi Endo) dan tim yang terdiri dari 1) Mantan Pembuat Hot Pot Sumo, Minoru Komatsu (Yosi Yosi Arakawa); 2) Pria 14 Kekasih, Masataka Hidaka (Narushi Ikeda); 3) Si Boros Penggila Belanja dengan Utang, Toshiko Inohara (Shuko Ito); 4) Ex-Bankir Suka Berjudi, Shoichi Baba (Shinpei Ichikawa) selalu melakukan senam pagi.

Kebiasaan ini akhirnya diikuti juga oleh anggota baru, Haruko Takayama (Haruna Kawaguchi). Begitu pula dengan Hoshino yang selalu menyempatkan aerobik-gaya-abstrak sambil terkadang mencari ide untuk makanan yang akan dibuatnya.

3. Tidak ada kata percuma buat yang mau berusaha

Dorama memang identik dengan budaya Jepang yang punya semangat pantang menyerah. Hoshino tidak putus asa saat idealismenya untuk menyajikan makan siang sekolah yang lezat terkendala anggaran dan standar nilai asupan gizi dari Pemerintah.

Hidangan pertama yang ia sajikan pada para murid tidak mendapat sambutan baik; grafik menunjukkan sisa makanan sangat tinggi. Pelajaran berharga bagi Hoshino bahwa tidak selamanya makanan berkelas selalu dinikmati dan sesuai dengan keinginan anak-anak.

Belum tentu bahan makanan mahal bisa menggugah selera makan mereka. Kejadian ini merupakan tantangan bagi Hoshino yang karya masakannya terkenal tidak pernah mengecewakan di lidah kebanyakan orang dewasa.

Hoshino mencoba beradaptasi dan berinovasi. Melihat grafik sisa makanan yang masih di atas target, Hoshino mengajak rekan kerjanya untuk datang kerja lebih pagi agar dapat menyiapkan bahan makanan, seperti memotong sayuran sesuai serat tanpa mesin serta membumbui daging dan ikan terlebih dahulu agar ketika dimasak rasanya lebih enak. Namun, usulan tersebut ditolak. Hoshino bersikeras bahwa ‘If you want to make good food, you’ll have to put in more effort’.

5 Hal yang Dipelajari dari Dorama 'Chef: Three Star School Lunch' 2
Sumber gambar: Viu.com

Keesokan harinya, ia membuktikan datang lebih awal untuk merealisasikan seluruh tahapan yang dibutuhkan demi sajian yang disukai anak-anak. Menu Ikan Sauri yang sepi peminat dimasak lembut dengan jahe dan bawang bombay agar tidak bau. Upayanya membuahkan hasil karena hidangan ini diapresiasi anak-anak untuk pertama kalinya.

Namun, perempuan perfeksionis ini belum puas sebab beberapa anak menyisakan makan siangnya agar bisa menyantap Ayam Goreng yang dijual di salah satu Toko Swalayan yang terkenal sangat enak.

Hoshino bersikukuh ingin membuktikan bahwa makan siang kreasinya mampu memperoleh predikat sangat lezat dari semua siswa. Melalui menu Sphagetti Napolitan, Hoshino akhirnya mendengar kata-kata yang ia dambakan: Saikou ni oishii!

Ia sukses meracik keseimbangan antara rasa asam dan manis pada saus sphagetti dengan menemukan jenis tomat yang pas dan teknik masak yang tepat.

4. Memaafkan untuk kebaikan diri sendiri

Dibalik arogansinya, Hoshino mengajarkan untuk tidak menyimpan dendam agar tak ada beban di hati. Fokus pada diri sendiri dengan melakukan yang terbaik; tidak melakukan pembalasan atau berupaya menjatuhkan.

Walaupun mantan atasannya telah mencoreng nama baiknya, menutup peluang dirinya berkarier sebagai Chef di kompetitor, dan mengganggu kios masakan Prancis miliknya, Hoshino tidak menempuh jalur hukum. Ia menyibukkan diri mencari solusi dengan berkreasi. Dengan segala keterbatasan sumber daya, Confit Bebek miliknya dapat tetap berjaya di pasaran!

Ia juga tidak menaruh amarah pada mantan asistennya, Okudera. Dengan berbesar hati, Hoshino mengikhlaskan resep Three-Artefact Turtle Pie milikinya digunakan La Cuisine de La reine untuk menghadapi ulasan restoran The Red Star Guide dan memberikan masukan pada Okudera agar berhasil membuatnya.

Disamping itu, pelajaran memaafkan juga dapat diambil dari Tokoh Haruko Takayama yang akhirnya berdamai dengan Ibunya.

5. Semua terasa lebih mudah dengan kerja sama yang baik

Meskipun semula meragukan kehandalan Heisuke Araki dan teman-temannya untuk  bekerja dalam tim, Hoshino akhirnya menemukan dirinya yang baru bersama mereka. Secara implisit, cerita ini memberikan pesan untuk tidak menyepelekan orang lain, bisa jadi dia kelak berjasa dalam hidup kita.

Siapa sangka, lelaki ganjen, Masataka Hidaka, membantu Hoshino membuka kiosnya kembali di lahan parkir milik ayah dari salah satu kekasihnya. Dikala harga bahan pokok melambung tinggi dan anggaran makan siang sekolah tidak memenuhi, Minoru Komatsu berkontribusi mendapatkan sayur murah melalui relasi di paguyuban sumo sehingga makan siang sekolah tidak jadi dihentikan.

5 Hal yang Dipelajari dari Dorama 'Chef: Three Star School Lunch' 3
Sumber gambar: Viu.com

Dengan kerja sama tim, Hoshino dan rekan-rekannya tetap dapat menyajikan makan siang ketika air sekolah sedang tidak layak dikonsumsi karena mengandung karat akibat adanya pekerjaan konstruksi pipa di dekat sekolah.

Saat harus mempromosikan dan menggunakan sayuran lokal yang tidak digemari anak-anak dalam menu makan siang, kolaborasi Hoshino dan Araki menciptakan menu Treasure Box of the 4 Kings of Leftovers disertai dukungan tim lainnya berhasil menaklukan penolakan dari anak-anak bahkan berhasil membawa makan siang SD Mitsuba memperoleh penghargaan Bintang Satu dari The Red Star Guide!

Thanks for Reading

Enjoyed this post? Share it with your networks.

Leave a Feedback!